news
Langganan

Pasar Mebel Turun, Eksportir Lirik Pasar Asia - Espos Indonesia dari Solo untuk Indonesia

by Dian Dewi Purnamasari Jibi Solopos  - Espos.id News  -  Sabtu, 3 November 2012 - 02:00 WIB

ESPOS.ID - David R Wijaya

David R Wijaya

—Akibat krisis yang melanda negara-negara maju, jumlah ekspor mebel dan kerajinan Indonesia menurun hingga 10 % tahun ini.

Advertisement

Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Ambar Tjahyono, mengatakan industri furniture cukup bergantung kepada benua Eropa dan Eropa. Sekitar 28% produksi mebel dan furniture Indonesia dikirimkan ke Eropa. Sedangkan 30% di antaranya dikirimkan ke benua Amerika.

“Pelaku usaha harus melirik pasar lokal dan Asia. Masih ada banyak peluang yang bisa ditangkap di sana,” ujar Ambar saat ditemui wartawan dalam acara Future Craft Workshop di Rempah Rumah Karya, Colomadu, Kamis (1/11/2012).

Omzet ekspor mebel Indonesia selama 2011 mencapai 1,85 miliar US$. Sedangkan pada 2012, omzet menurun menjadi 1,75 miliar US$. Total omzet penjualan produk mebel dan kerajinan kayu selama 2011 2,75 miliar US$.

Advertisement

Perubahan arah pasar itu, lanjut Ambar, harus segera dilakukan oleh pelaku industri mebel. Pasar Asia seperti China dan India juga masih cukup menjanjikan untuk digarap.

“China memiliki jumlah penduduk yang besar. Satu provinsi saja dapat memiliki 1 juta penduduk. Tetapi karakteristik masing-masing provinsi berbeda,” paparnya.

Karakteristik berbeda selera masyarakat itu juga mempengaruhi perubahan desain mebel yang ditawarkan. Asmindo sudah mengawali perubahan arah pasar sejak enam tahun lalu. Kota Shanghai misalnya lebih menyukai desain interior berbau kolonial karena cukup lama dijajah Eropa. Selain China, potensi pasar negara Asia lain seperti Korea, Taiwan, China dan India juga patut dilirik.

Advertisement

Mendekati natal dan tahun baru penjualan mebel di bursa ekspor biasanya meningkat. Namun, pembeli dari luar biasanya meminta sesuatu yang berbeda pada setiap tahun. Barang yang dijual harus memiliki karakter yang laku di pasaran. Oleh karena itu pelaku industri harus dapat membedakan antara desain industri dan desain seni.

Sementara itu, Ketua Asmindo Soloraya, David R Wijaya, mengatakan potensi pasar lokal juga tak kalah menggiurkan. Pertumbuhan hotel, resort serta perumahan yang pesat menyumbang permintaan yang cukup besar bagi industri mebel.

“Desainer dan pelaku usaha harus jeli menangkap peluang itu. Industri mebel jangan hanya menjadi eksekutor bagi desainer dari luar,” tandas dia.

Advertisement
Rini Yustiningsih - Jurnalis Solopos Media Group, menulis konten di media cetak dan media online.
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif